quote Forster
Advertisements

Catatan Samping: Malam minggu dan penanggalan barat

buku Lombard

Bagi yang jomblo, istilah malam minggu mungkin merupakan istilah yg sudah seharusnya dihindari. Ya karena malam minggu yang konon merupakan waktunya kunjung pacar (wakuncar) menjadi tidak terealisasikan sebab mereka tak punya pacar alias jombski – jomblo ngenes sekali. Hehehehe. But, anyway, kira-kira, kenapa ada istilah “malam minggu”? Kenapa bukan nyebut Sabtu malam untuk menandai waktu tersebut? Apa hubungannya “malam minggu” sebagai frasa degan sistem penanggalan barat? Duh, banyak ye.

Betewe, info ini aku dapat setelah membaca bukunya Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas pembaratan. Buku ini dulu jadi buku wajib untuk awal-awal kuliah. Beberapa bulan ini pengen baca lagi terutama buku babon sejarah sosial dan politik (ekonomi dan kebudayaan) yang membahas soal Indonesia, entah kenapa. Dulu sih pernah baca dengan urutan kebalik, dari nomor 3 ke nomor 1, karena bukunya emang menggunakan gaya kebalik. Sekarang aku bacanya dari nomor 1 ke nomor 3, meskipun belum selesai. Hehehe.

Jadi gini, jauh sebelum ribut-ribut soal hilal untuk menentukan hari lebaran, juga jauh sebelum elu lahir, di Nusantara (Indonesia) emang udah mengadobsi banyak jenis tanggalan. Misalnya, ada penanggalan Islam yg banyak dipakai sama kaum muslim, ada juga nih penanggalan Islam Jawa yg dikembangkan sama Sultan Agung, terus ada penanggalan dari Cina, ada lagi penanggalan Jawa kuno yg masih dipakai para petani sampe sekarang, bahkan ada penanggalan Bali lho yg dibagi jadi 30 wuku. Nah penanggalan yg sekarang kita pakai ini merupakan penanggalan barat peninggalan pemerintah kolonial.

Ha njuk, opo hubungane “malam minggu” itu karo penanggalan barat? Nah, sebelum penanggalan barat diberlakukan sebagai penanggalan tunggal secara nasional oleh pemerintah Indonesia, sistem penanggalan masyarakat saat itu sangat beragam. Di sini berarti sistem penunjuk waktu juga beragam. Jadi bolehlah kita bilang bahwa ketidakseragaman ini membuat pemerintah kolonial maupun pemerintah Indonesia kesulitan untuk menentukan waktu, jadwal dst. Misalnya nih, dulu sebelum penanggalan barat resmi dijadikan penanggalan tunggal, masalah penunjukkan waktu ditentukan dengan merujuk pada aktivias sosial/keagamaan yang didasarkan pada kebiasaan masyarakat. Contoh konkritnya, dan ini sepertinya masih sering digunakan ialah : “Bro, ntar kita rapatnya habis ashar ya.”

Selain itu, penghitungan jam ketika penanggalan barat belum dilakukan tidak merujuk pada jumlah 24 jam seperti yg biasa kita gunakan saat ini. Dalam hal ini penunjukkan waktu tidak digunakan untuk membatasi pergantian hari. Nah, untuk menunjukkan pergantian hari baru, digunakan proses natural ketika matahari terbenam, alias ketika hari sudah beranjak malam. Jadi, masyarakat waktu itu mengatakan hari berganti baru setelah malam turun. Hal ini berbeda jika kita menggunakan penanggalan barat yang menentukan bahwa pergantian hari baru ditunjukkan setelah pukul 24:00 dini hari – jelas ya kenapa istilah dini hari ada. Di sini, kata malam minggu menjadi masuk akal, lantaran satu hari dihitung dari malam yang turun dan karena waktu dimulai ulang setelah hari sudah malam. Jadi, istilah malam minggu itu sebenarnya relevan jika kita merujuk pada ketentuan penanggalan ketika penanggalan barat belum diberlakukan yang mana hari baru dimulai saat malam tiba. Dengan kata lain, malam minggu itu jika dikonversi ke penanggalan saat ini (barat) sebetulnya merujuk pada Sabtu malam.

So, kalau nanti ada yang tanya, malam minggu mau ke mana, jawab aja : bro masa lalu kok masih diinget-inget sih? Move on dong!

Muncul pertama kali di instagram.

Kanak-Kanak

Gadis-Gadis Desember

Ina dan Hesti
Ina dan Hesti

Desember 2016.

Dua manusia ini, kemarin berulang tahun. Keduanya, dan sama seperti saya juga manusia-manusia lain, ditakdirkan untuk berulang tahun di bulan Desember. Yang satu diceluk Ina, yang satunya diceluk Hesti.

Bagi saya, dua perempuan ini adalah manusia-manusia yang sejak saya mengenalnya, sudah membuat saya jatuh hati. Sejak dilahirkan saya tak pernah menyukai perempuan-perempuan yang terlalu girlie, seperti yang dikisahkan oleh boneka Barbie. Dan tentu saja, mereka bukan boneka Barbie. Mereka adalah manusia yang lahir dari segumpal keberanian, segenggam keunikan dan juga segores senyuman ketika Tuhan sedang membentuk mereka. Tentu ini menurut saya. Soalnya, seringkali kalau sedang menatap mereka, saya selalu bertanya, apakah Tuhan sedang sangat bahagia ketika membentuk mereka? Entahlah. Hanya orang tua mereka masing-masing dan Tuhan yang tahu.

Ada dua hal menurut saya kenapa orang bisa menjadi dekat, bahkan terikat. Lagi-lagi ini menurut pendapat saya. Kutub pertama, lantaran mereka memiliki kesamaan pemikiran atau cara pandang. Kutub kedua, lantaran mereka punya masa lalu yang hampir-hampir mirip. Dalam konteks Ina dan Hesti, keduanya saling mengisi dua kutub itu. Ina, dengan gaya bicara yang sok banget (Sampis!, cuih) punya cara pandang yang mirip dengan saya. Sementara Hesti, bagi saya memiliki, tidak saya bayangkan sebelumnya, lipatan-lipatan luka yang hampir serupa dengan saya. Untunglah keduanya saling mengisi bukan saling mendahului. Kalaupun saling mendahului, kuota yang berjumlah 4 pun masih sisa dua kursi. Jadi ngga papalah, sunnah rasul juga kan.

Berusaha keras ketawa.

Sejak bertahun-tahun lalu, saya tidak pernah percaya pada ulang tahun. Bagi saya, ulang tahun selalu mengingatkan tentang waktu kita sebagai manusia yang sangat sempit. Apalagi bila hanya dihabiskan dalam ruang-ruang yang menghimpit. Tetapi, bersama kalian, saya percaya masih ada sehasta ruang kosong yang bisa diisi melalui perayaan ulang tahun. Lewat jokes-jokes internal yang melelahkan, lewat ejekan yang keterlaluan, lewat karokean, lewat pembentukan wacana-wacana kelewatan juga lewat makaroni schotel dan saus pedas Indof**d. Apapun itu, selamat mengulang hari lahir.  Selamat menjalani masa-masa kritis dalam menjadi dewasa. Meskipun saya percaya bahwa setiap manusia tidak bertambah dewasa tiap tahunnya, mereka, seperti halnya kita, hanya bertambah tua.

*) Tulisan cepat-cepat setelah sekian lama lebih banyak menulis seriyes. Sebagian pernah diupload di Instagram.